26 Replies to “Latihan PMA R 001 21 April 2025”

  1. Yang pertama saya lakukan tentu saya akan membangun suasana atau silaturahmi yang baik terlebih dahulu kepada para anggota, kemudian saya akan mencari tau atau menggali kebutuhan dan minta apa yang mereka perlukan, setelah mengetahui yang mereka butuhkan saya akan membuat rencana kedepannya yang membuat para anggota merasa dihargai kehadirannya dan mau berkontribusi dengan kegiatan.
    Kemudian saya juga akan membuat kegiatan praktek langsung bukan hanya teori saja yang meningkatkan rasa ingin berpartisipasi anggota ke dalam kegiatan

  2. Yang saya lakukan pada awalnya yaitu perkenalan dan pendekatan dengan anggota KT harapan makmur. Setelah melakukan pendekatan pengenalan barulah saya melakukan wawancara dengan salah satu anggota KT harapan makmur. Saya mewawancarai beliau untuk mengetahui kehidupan anggota KT harapan makmur. Setelah saya lakukan wawancara dengan beliau saya mendapatkan banyak informasi tentang kehidupan beliau yaitu bapak Badri anggota KT harapan makmur.

    Saya melakukan pendekatan terlebih dahulu dan melakukan perkenalan dengan salah satu anggota KT harapan makmur. Hal itu saya lakukan agar menambah keakraban antara saya dengan anggota KT harapan makmur. Setelah itu baru saya laksanakan wawancara dengan beliau.

  3. Menurut saya, hal pertama yang dilakukan yakni benar-benar memahami, mengenal lebih dalam keadaan penduduk terlebih dahulu. Pengenalan ini dilakukan tidak hanya sekali maupun dua kali, namun jika memungkinkan dalam jangka waktu yang relatif lama dengan cara ikut terlibat dalam keseharian masyarakat setempat.

    Saya sendiri telah melakukan kunjungan turun lapangan ke Desa Setiris bersama Ibu-Ibu PKK yang menurut saya pertemuan tersebut masih belum mengenal jauh keadaan serta kesulitan para Ibu-Ibu PKK selain alasan sibuk dalam mengurus Rumah Tangga.
    Kemungkinan besar dengan mengenal lebih dalam keadaan Ibu-Ibu PKK Desa Setiris, saya dapat tau apa saja hal yang membuat mereka kesulitan yang mungkin menjadi alasan partisipasi mereka dalam pertemuan kelompok relatif rendah.

    Sebagai mahasiswa, saya rasa harus melakukan kegiatan turun lapangan dengan jangka waktu yang lebih lama dimana semakin banyak interaksi kepada Ibu-Ibu PKK. Selain itu, hal basic yang dapat dilakukan yakni berbagi informasi kepada Ibu-Ibu PKK dengan melakukan pertemuan yang sudah disepakati jikalau semua para Ibu-Ibu PKK dapat hadir pada hari yang telah ditentukan, membantu mereka dalam kegiatan dimana untuk mengembangkan masyarakat sekitar yang dibutuhkan oleh desa setempat sehingga mereka merasa bahwa kegiatan yang dilakukan bermanfaat dan tidak membuang-buang waktu.

  4. Langkah yang Akan Saya Lakukan:

    1. Melakukan Pendekatan Personal dan Mendengarkan Aspirasi: Saya akan memulai dengan mengadakan diskusi informal dengan beberapa anggota untuk mengetahui alasan ketidakterlibatan mereka dan apa harapan mereka terhadap kelompok. Ini akan membantu saya memahami kebutuhan dan hambatan dari sisi mereka.

    2. Membuat Pertemuan Lebih Interaktif dan Relevan: Dalam kunjungan berikutnya, saya akan mencoba merancang pertemuan kelompok dengan pendekatan partisipatif, misalnya dengan diskusi kelompok kecil, simulasi, atau studi kasus yang berkaitan langsung dengan kehidupan mereka. Materi yang dibahas juga akan difokuskan pada hal-hal praktis yang mereka butuhkan (misalnya: pengelolaan keuangan rumah tangga, pemanfaatan lahan pekarangan, atau peluang pemasaran hasil tani secara digital).

    3. Melibatkan Anggota Secara Bergiliran: Saya akan mendorong setiap anggota untuk secara bergiliran menjadi fasilitator mini dalam pertemuan (misalnya memimpin diskusi atau menceritakan pengalaman), agar mereka merasa memiliki tanggung jawab dan keterlibatan lebih.

    4. Menciptakan Suasana Positif dan Apresiatif: Menciptakan suasana yang nyaman, menyenangkan, dan penuh apresiasi atas kehadiran dan kontribusi sekecil apapun dari anggota bisa membangun semangat kebersamaan. Penghargaan sederhana seperti tepuk tangan, pujian, atau hadiah kecil dapat meningkatkan motivasi.

    Cara Melakukan Aktivitas Agar Partisipasi Tinggi:

    Saya akan menggunakan metode yang menyenangkan dan komunikatif seperti role play, diskusi kelompok, atau berbagi cerita pengalaman (storytelling).

    Menyediakan media visual sederhana (gambar, video pendek, atau alat peraga hasil tani) agar pembahasan tidak membosankan.

    Memanfaatkan tokoh lokal atau anggota yang lebih aktif sebagai motivator dalam pertemuan.

    Menyusun agenda pertemuan yang singkat, padat, dan sesuai waktu yang tersedia bagi ibu-ibu atau petani yang biasanya sibuk dengan pekerjaan rumah dan ladang.

    Harapan: Dengan pendekatan tersebut, saya berharap partisipasi anggota dalam pertemuan kelompok akan meningkat, karena mereka merasa didengar, dibutuhkan, dan dilibatkan dalam setiap proses. Peningkatan partisipasi ini menjadi kunci dalam memperkuat solidaritas kelompok dan mempercepat pencapaian tujuan bersama.

  5. Jika saya mendapati partisipasi anggota kelompok seperti Ibu-Ibu PKK masih rendah, hal pertama yang saya lakukan adalah mencoba mendekati mereka dan ngobrol baik-baik. Saya ingin tahu dulu alasan mereka kurang aktif, apakah karena waktunya tidak cocok, kegiatannya terasa membosankan, atau mereka merasa tidak dilibatkan dalam kegiatan. Soalnya, dalam proses pemberdayaan, hal terpenting adalah membuat masyarakat merasa punya peran, bukan hanya jadi pendengar atau penerima informasi saja.

    Setelah itu, saya akan mencoba membuat kegiatan yang lebih menarik dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Misalnya, dengan mengadakan pelatihan yang langsung praktek, mengajak diskusi ringan, atau sesi berbagi pengalaman. Saya juga akan mengajak mereka terlibat sejak awal—dari menyusun rencana sampai pelaksanaan kegiatan. Dengan begitu, mereka merasa punya andil dan tanggung jawab. Kegiatan pun akan saya usahakan dibuat dalam suasana yang santai tapi tetap fokus, agar mereka nyaman dan lebih mudah berpartisipasi.

    Harapan saya, dengan pendekatan yang seperti ini, anggota kelompok bisa belajar sambil jalan. Jadi bukan cuma sekadar ikut kegiatan, tapi juga ikut berkembang. Pemberdayaan itu sebenarnya soal proses, bagaimana orang bisa semakin percaya diri, makin paham potensinya, dan bisa mandiri. Kalau prosesnya berjalan dengan baik, partisipasi juga akan meningkat dengan sendirinya, karena mereka merasa kegiatan ini milik bersama, bukan sekadar acara dari luar.

  6. saya akan memulai dengan pendekatan dialogis dan informal untuk menggali alasan serta kebutuhan mereka. Langkah ini bertujuan membangun kepercayaan dan rasa memiliki terhadap kelompok.
    Selanjutnya, saya akan mengadakan diskusi kelompok atau focus group discussion(FGD) seperti yang telah diterangkan pak elwa pada minggu kemarin untuk mengidentifikasi masalah, merumuskan solusi, dan merancang kegiatan yang relevan dengan kebutuhan mereka. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan bersama agar anggota merasa dilibatkan secara aktif, bukan hanya sebagai peserta pasif.
    Saya juga akan membentuk tim kecil dari anggota yang lebih aktif untuk menjadi penggerak partisipasi. Mereka akan menjadi teladan dan motivator bagi anggota lainnya.
    Terakhir, evaluasi partisipatif akan dilakukan untuk menilai keberhasilan kegiatan, sekaligus menjadi proses pembelajaran bersama. Dengan demikian, partisipasi anggota dapat meningkat, kapasitas mereka berkembang, dan kelompok menjadi lebih mandiri serta berdaya.

  7. Kalau saya melihat partisipasi ibu-ibu PKK dan anggota KT Hortikultura masih rendah, hal pertama yang akan saya lakukan adalah mengobrol langsung dengan mereka, supaya tahu apa alasan mereka jarang ikut. Mungkin karena waktunya kurang pas, kegiatannya kurang menarik, atau mereka merasa tidak ada manfaat langsung dari pertemuan itu.
    Setelah tahu penyebabnya, saya akan coba ajak pengurus kelompok bikin kegiatan yang lebih menarik dan bermanfaat, misalnya pelatihan yang hasilnya bisa langsung dipakai, seperti bikin olahan dari hasil kebun atau lahan, atau boleh dijual juga. Kegiatannya juga sebaiknya dibuat lebih santai, penuh kebersamaan, dan waktunya disesuaikan dengan kesibukan mereka.
    Saya juga akan usulkan pemberian apresiasi kecil, seperti doorprize atau konsumsi menarik, dan yang paling penting, biarkan anggota ikut menentukan ide kegiatan. Dengan begitu, mereka akan merasa lebih dihargai dan lebih semangat untuk ikut. Kalau sudah merasa kegiatan itu milik bersama, partisipasi pasti akan meningkat dengan sendirinya.

  8. Saya bertemu dengan Ibu Imrotul, salah satu anggota PKK di RT 05 Desa Setiris, dan melakukan wawancara untuk mengetahui kegiatan PKK yang pernah dijalankan serta alasan beliau berhenti aktif. Saya juga menggali kondisi rumah dan ekonomi keluarganya, karena hal tersebut cukup mempengaruhi tingkat partisipasinya. Dari hasil obrolan, muncul gagasan bahwa salah satu cara agar ibu-ibu PKK bisa aktif kembali adalah dengan mengadakan kegiatan baru yang lebih menarik dan bermanfaat, serta mengajak seluruh anggota kembali turun ke lahan bersama. Dengan suasana kebersamaan dan kegiatan yang menyentuh kebutuhan mereka, diharapkan semangat seperti dulu bisa tumbuh kembali.

  9. Nama: Magdalena Sinaga
    Nim: D1B023002
    Kelas: R001/Agribisnis

    Komentar:
    Setelah saya membaca bahan ajar di i-LMS UNJA dan melihat bahwa partisipasi anggota kelompok masih rendah, hal pertama yang akan saya lakukan saat mengunjungi kelompok Ibu-Ibu PKK dan KT Hortikultura adalah mencoba membangun kedekatan dulu. Saya tidak langsung masuk dengan materi atau ajakan formal, tapi lebih ke pendekatan yang santai, ngobrol biasa, biar mereka merasa nyaman dulu sama kehadiran saya. Menurut saya, kalau mereka sudah merasa dekat dan tidak canggung, mereka akan lebih terbuka untuk ikut berpartisipasi. Saya juga akan tanya-tanya langsung ke mereka, kenapa kurang aktif, apa yang bikin malas ikut kegiatan kelompok, dan apa harapan mereka ke depannya. Dari situ saya bisa tahu apa yang perlu diperbaiki atau disesuaikan. Kadang mereka kurang semangat karena kegiatan yang ada terasa membosankan, atau mereka merasa nggak punya peran di dalam kelompok. Makanya, saya mau buat aktivitas yang lebih seru dan melibatkan mereka langsung. Misalnya, diskusi santai dalam kelompok kecil, sesi tanya jawab, atau praktik langsung seperti cara menanam yang benar, membuat pupuk organik, atau ide pengemasan hasil kebun. Jadi mereka nggak cuma duduk diam, tapi ikut gerak dan merasa punya kontribusi. Saya juga akan libatkan tokoh yang mereka percaya atau hormati, supaya suasananya lebih hidup dan mereka lebih semangat. Intinya saya ingin buat mereka merasa bahwa suara dan kehadiran mereka penting, bahwa kelompok ini milik bersama, bukan cuma segelintir orang aja. Dengan cara seperti itu, saya berharap mereka jadi lebih aktif dan partisipasinya bisa meningkat. Karena kalau mereka merasa dihargai dan dilibatkan sejak awal, biasanya mereka akan lebih semangat untuk terlibat di kegiatan berikutnya.

    Saya juga akan tanya pendapat mereka secara langsung, kira-kira apa yang bikin mereka malas ikut, apa harapan mereka terhadap kelompok, dan kegiatan seperti apa yang mereka inginkan. Dari situ saya bisa tahu arah pendekatan yang pas. Biasanya mereka kurang aktif karena merasa kegiatan kelompok nggak ada hasil yang nyata, atau cuma itu-itu aja, jadi cepat bosan. Selain itu, saya pikir penting juga untuk melibatkan mereka dalam kegiatan yang benar-benar memberikan dampak langsung, salah satunya adalah soal hasil penjualan. Saya akan usulkan agar setiap hasil dari kegiatan seperti panen, olahan produk, atau penjualan lainnya bisa dibagi secara adil kepada anggota yang terlibat aktif. Dengan begitu, mereka bisa langsung merasakan manfaat nyata dari kerja keras mereka sendiri. Ketika mereka tahu bahwa ada penghasilan yang bisa didapat, mereka akan menganggap kegiatan kelompok ini bukan cuma sekadar kumpul-kumpul, tapi juga bisa jadi sumber tambahan penghasilan. Harapannya, hal ini bisa memotivasi mereka untuk lebih aktif dan terus terlibat dalam kegiatan ke depannya.

  10. Seperti yang kita ketahui bahwa partisipasi anggota kelompok dalam pertemuan leatif rendah. Menurut saya hal pertama yang dilakukan kunjungan kepada masyarakat desa untuk pengenalan lebih dalam keadaan penduduk. Kunjungan tidak hanya dilakukan sekali dua kali agar dapat lebih mengenal kondisi penghidupan masyarakat. Serta dengan cara ikut terlibat dalam keseharian masyarakat.
    Saya telah melakukan kunjungan kepada Ibu-ibu PKK di Desa Sitiris untuk mewawancarai kondisi penghidupan ibu-ibu PKK, yang saya tahu kenapa pastisipatif anggota kelompok dalam pertemuan kelompok PKK relatif rendah di Desa Setiris, karena ibu-ibu sulit membagi waktu dalam kegitan rumah tangga.
    Selain itu, jika dilakukan pengenalan yang lebih mendalam dan ikut serta dalam keseharian masyarakat ibu-ibu PKK. Namun menurut saya pertemuan dengan Ibu-ibu PKK pertemuan tersebuat masih belum mengenal jauh keadaan serta kesulitan para Ibu- ibu PKK. Jika dilakukan pertemuan yg lebih lanjut kemungkinan saya dapat tahu hal apa saja yang dapat membuat ibu-ibu PKK Desa Setiris kesulitan dalam partisipasi pertemuan kelompok selain alasan sibuk mengurus rumah tangga.

  11. Nama : Medita angelina silaban
    Nim : D1B023018
    Kelas : Agribisnis R001
    Dalam menghadapi kondisi di
    mana keterlibatan anggota kelompok, khususnya para ibu PKK, masih rendah dalam pertemuan, saya akan mengadopsi pendekatan pembelajaran partisipatif yang bertujuan untuk membangun rasa kepemilikan, meningkatkan kepercayaan diri, serta menciptakan lingkungan pertemuan yang inklusif dan menyenangkan.

    Langkah awal yang akan saya ambil adalah menciptakan kedekatan dan kenyamanan emosional di antara anggota melalui metode diad, yaitu diskusi antara dua orang yang bersifat pribadi dan introspektif. Metode ini membantu anggota merasa lebih dihargai dan dapat mengungkapkan pandangan mereka tanpa merasa tertekan dari kelompok yang lebih besar. Setelah itu, saya akan melanjutkan dengan sesi curah pendapat untuk menggali ide-ide atau tantangan yang mereka hadapi dalam berpartisipasi. Metode ini sangat krusial karena memberi kesempatan bagi setiap suara untuk didengar dengan baik, tanpa adanya penilaian atau kritik.

    Untuk menjaga dinamika kelompok, saya berencana membagi peserta ke dalam kelompok kecil untuk diskusi. Dalam kelompok ini, anggota akan lebih leluasa untuk berdiskusi dan memberikan kontribusi, terutama mereka yang biasanya cenderung diam saat berada di forum besar. Hasil dari diskusi ini kemudian akan dipresentasikan kembali di forum umum, sehingga setiap kelompok merasa bahwa mereka memberikan kontribusi yang berarti dalam keseluruhan proses. Agar diskusi menjadi lebih relevan, saya bisa menggunakan studi kasus nyata atau simulasi kegiatan PKK, sehingga mereka bisa menghubungkan materi dengan kehidupan sehari-hari yang mereka jalani.

    Lebih lanjut, saya juga akan merancang kegiatan yang melibatkan praktik langsung atau melakukan kunjungan lapangan sederhana, seperti kegiatan membersihkan lingkungan atau pelatihan keterampilan rumah tangga. Kegiatan praktik ini akan memberikan pengalaman langsung yang mendorong partisipasi yang lebih aktif.

    Di akhir setiap sesi, saya akan mengajak peserta untuk melakukan evaluasi diri dengan cara yang mudah dan menyenangkan, misalnya dengan mencatat satu hal baru yang mereka pelajari atau rasakan selama kegiatan. Evaluasi ini penting agar anggota menyadari manfaat dari keterlibatan mereka dan secara bertahap meningkatkan motivasi internal untuk tetap aktif dalam kelompok.

    Dengan berbagai teknik tersebut, proses belajar tidak hanya menjadi lebih dinamis tetapi juga lebih memberdayakan, sehingga diharapkan dapat meningkatkan partisipasi yang aktif dan berkelanjutan dari para anggota kelompok PKK di setiap kegiatan yang dilakukan.

  12. Menurut saya, untuk meningkatkan partisipasi dalam pertemuan adalah dengan mengadakan diskusi ringan dengan satu atau beberapa perwakilan kelompok, tujuannya adalah mencari tahu alasan masih rendahnya partisipasi, serta memahami kebutuhan, minat dan hambatan yang mereka hadapi.

    Salah satu alasan mereka tidak dapat hadir dalam pertemuan adalah perihal waktu pelaksanaan pertemuan. Pemilihan waktu pertemuan haruslah menyesuaikan dengan waktu luang mereka, misalnya dilakukan sore hari ketika mereka telah selesai bekerja atau bisa juga ketika akhir pekan ketika mereka sedang libur bekerja. Selain itu, pertemuan tidak harus selalu bersifat formal dengan durasi yang lama, pertemuan sebaiknya diadakan dengan santai, singkat, padat, dan jelas. Hal tersebut untuk mengindari kejenuhan mereka, dan mencegah mereka tidak mau datang ke pertemuan selanjutnya.

    Selanjutnya, ketika pertemuan dilaksanakan dan pada saat diskusi sebaiknya dilakukan dua arah dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk memberikan pendapatnya, agar mereka merasa dihargai dan merasa memiliki tanggung jawab.

    Apabila kita sudah mengerti apa saja permasalahan yang dihadapi, apa saja kebutuhan mereka dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengemukakan pendapatnya, partisipasi mereka juga pasti akan meningkat dengan sendirinya.

  13. Beberapa cara yang saya lakukan untuk meningkatkan partisipasi anggota KT Hortikultura adalah sebagai berikut :
    1. Saya akan ngobrol dengan beberapa anggota untuk tahu alasannya. Mungkin waktunya tidak cocok, topiknya kurang menarik, atau mereka tidak tahu manfaat ikut pertemuan.
    2. Saya akan cari waktu dan tempat yang lebih nyaman dan mudah dijangkau, misalnya setelah kerja atau di lokasi yang dekat dengan kebun mereka.
    3. Saya akan melibatkan anggota untuk ikut menyampaikan ide, bercerita pengalaman, atau jadi pemimpin diskusi secara bergantian. Jadi mereka merasa punya peran penting.
    4. Saya akan buat grup WA( bagi anggota kt yang mempunyai handphone) untuk mengingatkan jadwal, berbagi informasi, dan menjaga komunikasi tetap aktif.

    Dengan cara-cara diatas anggota akan merasa memiliki peran penting dalam kelompok. Seiring waktu, ini dapat meningkatkan rasa memiliki, kedekatan antaranggota, dan tentu saja partisipasi aktif dalam setiap kegiatan kelompok.

  14. Menurut saya, kalau melihat partisipasi anggota Kelompok Tani masih rendah dalam pertemuan kelompok, langkah pertama yang perlu saya lakukan adalah membangun kedekatan dulu dengan mereka. Saya akan mencoba datang tidak sebagai “orang luar” yang datang membawa program, tapi sebagai teman diskusi. Awalnya cukup dengan ngobrol santai soal kegiatan tani mereka sehari-hari, apa yang sedang mereka hadapi di lapangan, dan apa harapan mereka terhadap kelompok. Suasana yang akrab ini penting supaya mereka merasa nyaman untuk mulai terlibat.
    Setelah itu, saya akan ajak mereka diskusi pakai teknik curah pendapat atau brainstorming. Saya akan sampaikan beberapa pertanyaan ringan seperti, “Menurut bapak-bapak, apa yang bisa bikin kegiatan kelompok ini lebih bermanfaat atau menarik untuk diikuti?” Semua pendapat saya tampung tanpa dikomentari dulu. Tujuannya supaya mereka merasa ide dan pendapatnya dihargai. Menurut saya, ini bisa jadi langkah awal untuk membangkitkan rasa memiliki terhadap kelompok.
    Langkah selanjutnya adalah mengajak mereka langsung terlibat dalam kegiatan yang nyata dan sesuai kebutuhan, misalnya praktek lapangan atau kunjungan ke tempat yang relevan. Saya akan minta pendapat mereka tentang rencana kegiatan, siapa yang mau terlibat, dan bagaimana pembagian tugasnya. Dengan begitu mereka merasa dilibatkan sejak awal, bukan sekadar datang saat kegiatan sudah jadi. Bisa juga saya bentuk kelompok-kelompok kecil untuk diskusi lanjutan biar suasananya lebih terbuka dan setiap orang punya kesempatan bicara.
    Terakhir, menurut saya penting juga mengajak mereka refleksi lewat evaluasi sederhana. Saya bisa tanya langsung, “Gimana menurut bapak kegiatan tadi?”, “Apa ada yang perlu diperbaiki atau ditambah untuk kegiatan berikutnya?” Ini membantu mereka menyadari bahwa partisipasi mereka berpengaruh terhadap arah kelompok ke depan. Dengan suasana yang terbuka, kegiatan yang relevan, dan keterlibatan langsung, saya percaya partisipasi anggota kelompok bisa meningkat secara perlahan tapi pasti

  15. Saat saya melakukan wawancara dengan kelompok KT Hortikultura, langkah pertama yang akan saya ambil adalah membangun komunikasi yang baik. Saya akan menggali informasi tentang kegiatan mereka, jenis tanaman yang dibudidayakan, serta tantangan yang sering mereka hadapi di lapangan. Wawancara ini juga saya gunakan sebagai kesempatan untuk memahami potensi yang dimiliki kelompok, baik dari segi sumber daya maupun ide-ide pengembangan.

    Supaya wawancara berjalan dengan partisipasi yang tinggi, saya akan menggunakan pendekatan yang santai dan tidak kaku—lebih seperti ngobrol daripada tanya-jawab formal. Saya akan melibatkan seluruh anggota yang hadir dengan pertanyaan terbuka dan menghargai setiap pendapat yang muncul. Saya juga akan memberikan kesempatan mereka untuk bercerita tentang pengalaman mereka, supaya mereka merasa dihargai dan didengarkan.

    Dengan membuat mereka merasa bahwa pendapat dan pengalaman mereka penting, saya berharap akan tumbuh rasa percaya diri dan semangat untuk terus aktif di dalam kelompok. Hasil dari wawancara ini juga bisa menjadi dasar untuk merancang kegiatan atau pelatihan lanjutan yang sesuai dengan kebutuhan mereka, sehingga benar-benar terasa manfaatnya. Ketika mereka merasa didukung dan dilibatkan, partisipasi akan tumbuh secara alami.

  16. Nama: Isharen Putri Shahira
    NIM: D1B023011

    Untuk meningkatkan partisipasi anggota kelompok dapat dilakukan menganalisa alasan rendahnya partisipasi tersebut, kemudian membangun kembali keakraban antar anggota kelompok dengan mengadakan diskusi atau kegiatan yang sesuai dan fleksibel. Memilih ketua kelompok yang kompeten dan berprinsip sehingga membangun kembali kepercayaan anggota terhadap kelompok, kemudian dapat dengan memberikan apresiasi terhadap anggota kelompok yang aktif berpartisipasi

  17. Setelah membaca bahan ajar di i-LMS UNJA dan mengetahui bahwa partisipasi anggota kelompok masih rendah, langkah yang akan saya lakukan adalah melakukan pendekatan personal untuk mengetahui penyebabnya lalu merancang kegiatan yang menarik, relevan, dan bermanfaat bagi anggota seperti pelatihan keterampilan . Aktivitas dilakukan secara partisipatif agar anggota merasa dilibatkan, serta diberi apresiasi untuk memotivasi keterlibatan. Dengan cara ini, partisipasi anggota diharapkan meningkat secara bertahap dan berkelanjutan.

  18. saya menyadari bahwa rendahnya partisipasi anggota, seperti yang terjadi pada kelompok ibu-ibu PKK, dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti kurangnya pemahaman terhadap tujuan kegiatan, atau metode pendekatan yang kurang melibatkan mereka secara aktif. Oleh karena itu, hal pertama yang akan saya lakukan adalah membangun komunikasi yang terbuka dan bersahabat dengan anggota kelompok untuk menciptakan rasa aman dan nyaman. Saya akan menggunakan teknik curah pendapat (brainstorming) sebagai langkah awal untuk menggali pendapat, kebutuhan, serta harapan mereka terhadap kegiatan kelompok. Teknik ini efektif untuk mendorong anggota agar lebih terbuka dan merasa bahwa suara mereka penting. Setelah itu, saya akan membagi kelompok ke dalam diskusi kelompok kecil agar setiap anggota memiliki kesempatan lebih besar untuk berpendapat dan berdiskusi secara lebih intensif. Selain itu, saya juga akan menggunakan metode simulasi atau bermain peran yang berkaitan langsung dengan aktivitas keseharian mereka, sehingga mereka dapat memahami materi dengan cara yang menyenangkan dan aplikatif. Aktivitas ini akan saya rancang semenarik mungkin dan relevan dengan kebutuhan mereka, serta memberi ruang yang sama bagi semua anggota untuk terlibat. Dengan suasana yang inklusif, interaktif, dan tidak menggurui, saya yakin proses ini dapat meningkatkan rasa kepemilikan mereka terhadap kegiatan kelompok, yang pada akhirnya akan meningkatkan partisipasi mereka secara aktif dan berkelanjutan dalam setiap pertemuan kelompok.

  19. Perkenalkan nama saya Charin Sekar Ayu dengan NIM D1B023007. Beberapa minggu lalu saya mengunjungin setiris. Hal yang saya lakukan pada kelompok yang saya kunjungin yaitu ibu-ibu Pkk desa setiris (ibu Ririn Purwati) dengan melakukan pendekatan secara personal saya melakukan perkenalan, berbicara menanyakan tentang daerah setiris dan berkunjung kerumah ibu Ririn sebagai responden saya. dengan membangun pendekatan ini saya berharap dapat membuat ibu ririn menjadi merasa nyaman dan tidak akhirnya merasa terbuka dan terdorong untuk lebih aktif berpartisipasi dalam kegiatan PKK.

    Setelah itu saya menanyakan hal-hal apa yang sering menjadi penghambat yang menyebabkan rendahnya partisipasi masyarakat dengan cara wawancara langsung dan pengisian kuisioner. Dari hasil tersebut saya mendapatkan jawaban bahwa faktor penghambat mereka yaitu kendala waktu, dan kegiatan PKK yang tidak aktif.. pkk didaerah setiris hanya ada kegiatan ketika hari” besar seperti 17 an sehingga kurang memberi dampak bagi mereka dan menyebabkan kurang minatnya mereka untuk berpartisipasi.

    Dari jawaban tersebut menurut saya agar proses kegiatan Pkk didesa setiris bisa diikuti dengan partisipasi tinggi perlunya membuat kegiatan/ pertemuan rutin beberapa kali sebulan sesuai kebutuhan dan bermanfaat bagi mereka. didalam kegitan tersebut wajib melibatkan seluruh anggota ( memberikan
    peran masing” anggota) sehingga mereka lebih dihargai dan tertarik untuk berpartisipasi

  20. Apabila partisipasi anggota masih rendah, saya akan mulai dengan mendengar pendapat dan kendala mereka. Setelah itu, saya bantu menyampaikan aspirasi mereka ke pihak penyelenggara kegiatan. Saya juga akan mendorong keterlibatan mereka dengan cara yang santai dan sesuai kebutuhan. Dengan begitu, mereka merasa dihargai dan partisipasi bisa meningkat secara alami.

  21. Diketahui bahwa partisipasi anggota kelompok relatif rendah dalam pertemuan, serta adanya kunjungan kelompok ke ibu-ibu PKK beberapa langkah strategis dapat dipertimbangkan untuk meningkatkan partisipasi anggota. Pertama, penting untuk mengkomunikasikan tujuan dan manfaat PKK ini secara jelas dan menarik kepada seluruh anggota PKK. Penjelasan mengenai bagaimana organisasi PKK ini akan menambah pengetahuan, keterampilan, atau bahkan membuka peluang baru bagi anggota agar dapat memotivasi mereka untuk terlibat aktif. Kedua, melibatkan anggota dalam perencanaan PKK, seperti meminta ide atau masukan terkait fokus kunjungan atau pertanyaan yang ingin diajukan, dapat menumbuhkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab. Ketiga, menciptakan suasana pertemuan kelompok yang lebih interaktif dan inklusif, di mana setiap anggota PKK merasa nyaman untuk menyampaikan pendapat dan berkontribusi, juga akan berdampak positif pada tingkat partisipasi secara keseluruhan. Dengan demikian, melalui komunikasi yang efektif, pelibatan anggota dalam organisasi PKK, dan penciptaan suasana kelompok yang kondusif, diharapkan partisipasi anggota dalam kegiatan PKK dan pertemuan kelompok dapat meningkat secara signifikan.

  22. pertama – tama harus diketahui dulu apa yang membuat partisipasi ibu – ibu pkk relatif rendah atau pun banyak yang tidak ikut berkontribusi. contohnya:
    1. jadwal pertemuan yang tidak sesuai
    2. materi membosankan ataupun tidak relevan,
    3. kurang nya komunikasi antar sesama ibu ibu Pkk ataupun
    4. tidak ada hasil yang jelas dari pertemuan yang diadakan.

    terkait penyebab” itu saya akan mendiskusikan terkait jadwal pertemuan untuk ibu ibu pkk agar tidak ada yang tidak dapat hadir dikarenakan aktivitas lain, bisa secara offline maupun melalui media watsup. kemudian merancang kegiatan kelompok yang sesuai dengan kebutuhan dan minat mereka yang sebelum nya harus didiskusikan terlebih dahulu contoh nya kegiatan pemanenan setelah kegiatan hasil sayur sayur an akan dimasak bersama ataupun dilakukan acara makan makan bersama untuk mempererat ke akrapan antar ibu ibu pkk. atau bisa saja hasil panen nantinya dapat dikonsumsi masing” oleh ibu ibu pkk dan bisa dijual yang hasilnya dapat dibagi rata. hal itu semua dapat dilakukan dengan adanya komunikasi antar pribadi ke ibu ibu pkk dan melibatkan mereka dalam proses perencanaan dari awal sampai akhir. memberikan apresiasi untuk semua kegiatan yang sudah berlangsung dengan lancar dapat meningkatkan rasa kepemilikan peran ibu ibu pkk dalam organisasi. dengan pendekatan yang partisipatif menyenangkan anggota kelompok akan sangat merasa dihargai dan terlibat dan merasa memiliki tanggungjawab masing” dalam kegiatan tersebut hal ini dapat secara bertahap meningkatkan peran aktif mereka dalam setiap kegiatan organisasi

  23. Cara yang saya lakukan untuk meningkatkan Partisipasi Anggota Kelompok yaitu
    Jika partisipasi anggota kelompok seperti Ibu-Ibu PKK dan Kelompok Tani masih rendah, hal pertama yang akan saya lakukan adalah mencari tahu penyebabnya. Bisa jadi karena waktu pertemuannya tidak cocok, acaranya kurang menarik, atau anggota belum merasa dilibatkan.

    Setelah itu, saya akan mengatur waktu dan tempat pertemuan yang lebih fleksibel, misalnya dilakukan setelah anggota selesai dengan urusan rumah atau kebun, dan lokasinya dibuat senyaman mungkin.

    Agar anggota tertarik hadir, saya akan mengadakan kegiatan yang seru dan bermanfaat, seperti praktik cara membuat pupuk alami, berbagi cerita sukses bertani, atau kuis dan permainan ringan dengan hadiah kecil. Saya juga akan mengajak anggota untuk aktif, misalnya dengan bergiliran jadi pembawa acara atau membantu jalannya kegiatan.

    Setiap keikutsertaan anggota akan saya beri apresiasi, walaupun sederhana, agar mereka merasa dihargai. Setelah kegiatan selesai, saya juga akan mencatat dan mengevaluasi acara untuk tahu apa yang bisa diperbaiki ke depannya.

    Dengan cara tersebut, diharapkan anggota jadi lebih semangat datang dan ikut aktif dalam kelompok, karena merasa kegiatan tersebut berguna, menyenangkan, dan membuat mereka merasa memiliki kelompok tersebut.

  24. Untuk meningkatkan partisipasi anggota kelompok Ibu-Ibu PKK yang saya lakukan adalah membangun komunikasi yang terbuka dengan anggota kelompok untuk menggali alasan rendahnya partisipasi. Diskusi santai ini penting untuk mengetahui apakah kendalanya berasal dari waktu pertemuan yang kurang sesuai, kegiatan yang kurang menarik, atau kurangnya rasa memiliki terhadap kelompok. Setelah itu, saya akan mengajak mereka untuk terlibat langsung dalam kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan dan minat mereka, seperti pelatihan keterampilan, edukasi kesehatan, atau kegiatan ekonomi produktif. Proses kegiatan akan dibuat interaktif dan menyenangkan melalui metode diskusi kelompok. Untuk itu saya hatap proses pemberdayaan tidak hanya menjadi ajang transfer pengetahuan, tetapi juga menjadi proses pembelajaran yang membangun rasa percaya diri dan kemandirian, sehingga partisipasi anggota dalam kelompok akan meningkat secara berkelanjutan.

  25. Jika partisipasi anggota PKK masih tergolong rendah, saya akan menghadapi situasi ini dengan beberapa langkah realistis yang bertujuan untuk meningkatkan keterlibatan mereka yaitu dengan membangun kedekatan dan kepercayaan, serta menerapkan pendekatan personal di luar pertemuan formal. Saya akan berupaya menjalin interaksi secara informal dengan beberapa anggota secara individu, misalnya saat menghadiri kegiatan atau saat bertemu secara kebetulan.
    Kemudian penting untuk mengidentifikasi akar permasalahan yang menyebabkan rendahnya partisipasi. Hal ini bisa dilakukan melalui diskusi kelompok terbuka. Terakhir, saya akan mengangkat topik yang relevan dengan minat dan kebutuhan ibu-ibu PKK, seperti kesehatan keluarga dan keterampilan praktis, seperti memasak dan kerajinan tangan. Untuk meningkatkan partisipasi bukanlah proses yang cepat dan mudah karena dibutuhkan kesabaran, ketekunan dalam menerapkan strategi.

  26. Berdasarkan pemahaman yang saya peroleh dari bahan ajar tersebut, jika saya menghadapi kondisi partisipasi yang rendah dalam pertemuan kelompok seperti Ibu-Ibu PKK dan Kelompok Tani Hortikultura (KT Hortikultura), ada beberapa langkah yang akan saya ambil.
    Berikut adalah strategi yang akan saya terapkan:
    1. Identifikasi dan Kajian Bersama
    Langkah-langkahnya: 1. Lakukan pendekatan personal dan kelompok untuk membangun rasa percaya di antara anggota. 2. Selenggarakan diskusi santai guna memahami: – Mengapa mereka merasa enggan untuk terlibat? – Apa hambatan yang mereka temui dalam berpartisipasi? – Apa harapan dan impian mereka terkait dengan kelompok ini? Proses ini akan menjadi langkah awal yang penting dalam membangun kesadaran di kalangan ibu-ibu PKK.
    2. Menggunakan Pendekatan Partisipatif yang Menyenangkan
    Terapkan metode kreatif dalam setiap pertemuan, seperti permainan, simulasi, atau studi kasus yang relevan dengan kondisi lokal. Ajak anggota untuk terlibat dalam perencanaan agenda kegiatan, sehingga mereka merasa memiliki kontribusi.
    3.Melaksanakan serangkaian pelatihan kecil, seperti teknik bercocok tanam modern, pengelolaan dana kelompok, dan pemasaran produk olahan. Alasan: Peningkatan keterampilan dan pengetahuan akan mendorong rasa percaya diri dan tanggung jawab di antara peserta.
    4. Evaluasi dan Apresiasi. Berikan penghargaan kecil kepada anggota yang aktif, seperti sertifikat, ucapan terima kasih, atau hadiah simbolis. Alasan: Penghargaan semacam ini akan meningkatkan motivasi dan memberikan contoh yang baik bagi anggota lainnya.

Comments are closed.