Filosofi Stoicism: Ekspektasi dan Kebahagiaan
Kuliah: Satu Persen – Indonesian Life School
Pilihan-pilihan mau jadi Stoic atau Nihilsme.
Begitu banyak hal-hal didunia ini yang masih abu-abu, missal kita tidak bisa memberi alasan bahwa keberhasilan seseorang dalam hidup adalah karena faktor X (kaya raya) dan sebaliknya kita tidak bisa pula memberikan penilaian kepada seseoang karena miskin, lalu ia menderita. Jadi tidak semua hal bisa kita nilai baik buruknya.
Hidup individu yang baik adalah hidup individu yang berdaya. Dia tahu dirinya itu siapa, mau kemana dan mau jadi apa? Jika ada masalah maka individu seharusnya bisa menjadi problem solver.
Identity aware: tahu dan sadar dirimya itu siapa, mau kemana dan mau jadi apa?
Problem solver: jika ada masalah, individu mestinya bisa menjadi active problem solver.
Growth midset: percaya bahwa dirinya dan masyarakat bisa berkembang kearah yang lebih baik.
Filosofi Stoicism dipopulerkan oleh Zino of Citium pada zaman y8nani kuni pada masa periode Hellenistik. Periode ini ditandai saat kematian Alexander de Great. Filosofi ini tidak lekang oleh waktu, tidak berlawanan dengan ideologi lain dan relevan untuk digunakan oleh semua orang. Tokoh yang membesarkan Stoicism adalah: Seneca, Epictetus dan Marcus Aurelius.
4 Prinsip Stoicism: (1) Tuhan akan selalu care terhadap makhluk hidup; (2) Hidup yang penuh dengan kebijaksanaan itu penting untuk kebahagiaan kita; (3) Bahwa alam semesta bekerja dengan harmoni dan Kita harus hidup harmonis dengan alam semesta; (4) Semua yang terjadi pasti ada alasannya. Hal baik buruk pasti sudah diatur oleh satu kekuatan yang lebih besar dari segala yang ada di alam semesta.
Emosi kita berkaitan sekali dengan ekspektasi. Dan Ekspektasi dapat saja membunuh kebahagiaan. Stoicism, menegaskan bahwa ekspektasi yang paling baik adalah ketika kita membayangkan hal-hal yang terburuk dalam memandang masa depan. Jadi berfikir negative itu sebenarnya untuk mempersiapkan diri kita agar lebih siap menghadapi masa depan. Meskipun terkesan pesimis, akan tetapi suasana yang diciptakan dalam diri sangat positif. Jadi yang perlu dilakukan adalah lower ekspektasi.
Pengikut Stoic adalah master of emotion, bisa menerima apapun yang terjadi. Marcus Aurelius: “jika kamu bersusah hati karena hal-hal ekstenal, kesusahan itu datangnya bukan dari hal tersebut, tetapi dari opinimu sendiri mengenai hal itu”