Pelajaran 28
Untuk mu Guru
Satu demi satu, guru telah dipanggil menghadapNya. Kepergiannya membawa duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga yang ditinggalkan, tetapi juga bagi kami teman sejawat, mahasiswa, anak beliau di kampus tercinta. Bapak telah menunaikan tugas dengan baik, cermat dan bersahaja. Bapak juga telah memperlakukan kami dengan tangan lembut namun disiplin. Kami mendapat perlakuan yang layak kami terima: sebagai mahasiswa, sebagai teman dan bahkan sebagai anak-anaknya.
Kepergianmu Bapak, sesungguhnya bukanlah sedemikian tiba tiba dan tidak disangka sangka. Semua sudah diatur oleh yang Maha Kuasa. Namun demikian Bapak, sampai kemaren Bapak adalah pemimpin kami, dan hari ini Bapak adalah objek yang bisa menjadi pelajaran bagi kami dan sebentar lagi kami akan berpisah dengan Bapak.
Begitu banyak pelajaran yang Bapak berikan kepada kami, begitu banyak nasehat yang Bapak paparkan kepada kami, begitu banyak waktu yang Bapak sediakan untuk kami, untuk membekali kami dengan kekuatan mental dalam menghadapi berbagai masalah yang akan dihadapi. Bapak telah curahkan perhatian untuk membantu kami mengembangkankan karakter mulia dan membekali kami kemampuan untuk menghadapi kehidupan yang kami jalani, untuk mengarahkan kami tumbuh menjadi orang yang berakhlak tinggi, berpikiran lurus dan terbuka dan memiliki pengetahuan tentang berbagai hal disekeliling kami.
Bapak telah ajarkan kepada kami, jangan bicara tentang apa saja yang tidak kami ketahui. Jangan berspekulasi dan memberikan penilaian tentang topik topik yang kami tidak berada dalam posisi untuk memberikan penilaian dan tidak dirujuk untuk memberikan penilaian. Tinggalkan jalan yang memungkinkan kami untuk menyimpang dan tersesat. Ketika ada bahaya mengancam perjalanan di belantara ketidak tahuan, ketika kami dimungkinkan untuk melalaikan tujuan yang ingin dicapai, maka Bapak katakan, sebaiknya berhentilah melangkah dari pada tetap maju menghadapi bahaya yang belum diketahui dan resiko resiko yang tidak dapat diantisipasi.
Wahai Bapak kami, yang tanggunganNya telah diambil pergi, yang menerima dan menghargai moralitas dalam kehidupan, yang sabar menghadapi kesulitan, yang tak menyukai keinginan berlebihan. Sekarang kami masih melanjutkan perjalanan. Kami sadar bahwa kami tetap mengharap sesuatu yang tidak mudah dicapai, yang sedang melalui jalan yang telah di tempuh oleh orang-orang yang telah binasa, sasaran dari segala penyakit, tanggungan hari-hari, sekutu kerisauan, teman duka-cita, dan sebagai incaran bencana.
Namun nasehatmu kepada kami tidak akan kami lupakan. Agar kami tidak bersifat rakus, karena sifat rakus menyebabkan manusia menjadi hina, seperti orang yang haus yang hendak minum air laut, semakin banyak ia meminum air laut, semakin bertambah rasa dahaganya. Bapak juga mengajarkan bahwa tak mungkin semua keinginan terwujud. Karena itu kami harus mengendalikan harapan, hasrat dan keinginan. Bila meminta hendaklah yang sedang sedang saja. Merasa cukuplah dengan apa yang peroleh dengan jalan terhormat. Bersabarlah, dan jangan sampai hasrat dan keinginan tak terkendali karena banyaknya keinginan akan membuat kami sedih dan kecewa.
Bapak telah tekankan kepada kami bahwa apapun yang kami inginkan untuk diri kami, inginkan untuk orang lain. Apa saja yang kami tak inginkan terjadi pada kami, jangan inginkan terjadi pada orang lain. Jangan menindas dan menzalimi orang, karena sesungguhnya kami tak ingin ditindas dan dizalimi.
Bapak…
Kami anak-anakmu, teman-teman mu, masih tetap akan melanjutkan perjalanan. Pada hal disekeliling kami, kami lihat betapa banyak individu yang merasa kuat megeksploitasi dan menzalimi yang lemah. Hasrat tak terkendali dan kerakusan begitu mengendalikan diri mereka sehingga dapat kami lihat sebagiannya seperti ternak yang dijinakkan dan diikat dengan tali melingkari kedua kaki dan leher.
Sementara sebagian yang lain jadi gila akibat harta dan kekuasaan. Perilaku mereka laksana hewan buas yang sulit dikendalikan. Mereka bersikap arogan dan menghabisi sesama. Orang orang seperti ini telah kehilangan keseimbangan jiwa dan pikiran. Mereka tak tahu apa yang mereka perbuat dan hendak kemana mereka.
Semoga kami diberi kekuatan oleh Yang Maha Kuasa menghadapi semuanya,
Dan terakhir, hasil kerja keras Bapak telah nampak dan bahkan kami telah nimati. Bagaimanapun juga hasil kerja keras dengan hati yang tulus sekalipun kecil lebih baik ketimbang harta yang didapat dengan jalan dosa dan kotor. Selamat jalan Bapak, semoga perjalananmu damai.