Pelajaran 20
Renungan Tahun Baru 2012
Wahai engkau tawanan dunia, Sejauh menyangkut sikapmu terhadap orang, hendaknya “diri”-mu berfungsi sebagai neraca untuk menilai baik atau buruknya sikapmu. Lakukan untuk orang apa yang engkau inginkan orang lakukan untukmu.
Apapun yang engkau inginkan untuk dirimu, inginkan untuk orang lain. Apa saja yang engkau tak inginkan terjadi paadmu, jangan engkau inginkan terjadi pada orang lain. Jangan menindas dan menzalimi orang, karena sesungguhnya engkau tak ingin ditindas dan dizalimi. Berbaik hati dan pahamilah perasaan orang, karena sesungguhnya engkau menginginkan orang berbaik hati dan memahami perasaan mu. Jika engkau melihat kebiasaan orang yang memuakkan, jauhkan kebiasaan itu dari mu. Jika engkau merasa senang dan merasa puas menerima perilaku tertentu dari orang, maka bersikaplah serupa kepada orang. Jangan membicarakan orang dengan pembicaraan yang engkau tak suka orang membicarakanmu dengan pembicaraan seperti itu. Jangan bicara tentang topik tertentu yang engkau sendiri hanya tahu sedikit atau tidak tahu sama sekali. Dan jika engkau ingin berbicara tentang sesuatu atau tentang seseorang yang engkau tahu betul apa sesuatu tiu atau siapa orang itu, maka hindarilah desas desus, fitnah dan pencemaran nama, karena engkau sendiri tak suka kalau dirimu didesas-desuskan, difitnah dan dicemarkan nama baikmu.
Ingatlah, Arogansi, kesia-siaan dan egoisme merupakan bentuk bentuk perbuatan bodoh atau tidak rasional. Perbuatan itu akan mendatangkan mudharat yang sangat membahayakan dan akan menjadi sumber abadi ancaman bagimu. Karena itu, hiduplah dengan arif atau rasional dan carilah sumber penghasilan yang bermoral. Namun janganlah bertindak seperti harta bagi seseorang atau jangan kikir, sehingga harta yang engkau timbun, engkau tinggalkan begitu saja untuk orang lain. Dan kapanpun engkau mendapat bimbingan Tuhan untuk meraih sesuatu yang engkau dambakan, janganlah membangga banggakan pencapaian mu, namun bersikaplah rendah hati, tunduk, khidmat dan patuh kepada Nya, dan sadarilah bahwa keberhasilan mu terjadi berkat rahmat Nya.
Ingatlah, dihadapanmu terbentang sebuah perjalanan yang panjang dan berat. Perjalanan bukan saja sangat panjang, melelahkan dan berat, namun rutenya sebagian besar melewati daerah daerah yang suram dan ditinggalkan penghuninya, di rute ini engkau butuh sekali bantuan untuk memulihkan energi, vitalitas dan engkau mutlak membutuhkan bekal perjalanan untuk sampai ke tujuan perjalanan – Hari Pengadilan.
Namun ingatlah untuk tidak terlalu membebani diri, janganlah engkau serahkan kepada dirimu sedemikian banyak tanggung jawab dan kewajiban yang tak dapat engakau laksanakan dengan integritas personal yang tinggi, atau jangan jalani kehidupan mewah, boros, royal karena kehidupan seperti ini keji.
Karena jika beban ini melebihi kemampuanmu memikulnya dengan nyaman, maka perjalananmu akan sangat neletihkan dan menyiksa. Jika engkau dapati disekelilingmu orang orang papa, miskin dan fakiryang bersedia memikul bebanmu untuk sampai ke tujuan, maka sikapi ini sebagai anugrah, termalah kehadiran mereka dan serahkan sebagian bebanmu kepada mereka.
Lihatlah disekeliling engkau, betapa banyak individu yang merasa kuat megeksploitasi dan menzalimi yang lemah. Hasrat tak terkendali dan kerakusan begitu mengendalikan diri mereka sehingga akan engkau lihat sebagiannya seperti ternak yang dijinakkan dan diikat dengan tali melingkari kedua kaki dan leher. Sementara sebagian yang lain jadi gila akibat harta dan kekuasaan. Perilalu mereka laksana hewan buas yang sulit dikendalikan. Mereka bersikap arogan dan menghabisi sesama. Orang orang seperti ini tekah kehilangan keseimbangan jiwa dan pikiran. Mereka tak tahu apa yang mereka perbuat dan hendak kemana mereka. Perhatikan akktivitas mereka dan kaji pola pikir mereka, maka akan engkau ketahui mereka tak dapat berfikir jernih dan berbuat arif. Mereka nampak seperti ternak yang tersesat digurun sunyi nan tandus yang tak ada air dan tak ada pangan. Tak ada gembala yang mengurus mereka.
Mereka melangkah tanpa maksud dan tujuan yang logis di atas panggung menawan yang digelar dunia untuk mereka. Mereka benar benar mabuk kesenangan. Mereka memandang dunia sebagai tuhan dan pemberi rezeki. Dunia tampak menyenangkan bagi mereka, dan mereka pun sedemikian senang kepada dunia, sampai sampai mereka lupa dan mencampakkan yang lain.
Namun malam demi malam yang penuh kenikmatan dan kesenangan ini tak akan berlangsung lama bagi siapapun, dan cepat atau lambat fajar realitas akan menyingsing. Kafilah kehidupan akan sampai di tujuannya kelak. Orang yang malam dan siangnya berlaku sebagai kuda belang baginya, yang terus menerus membawanya menuju tujuan perjalanannya, maka dia harus ingat bahwa meskipun dia merasa seperti singgah disebuah tempat, namun sesungguhnya dia tengah bergerak menuju tujuannya.
Ketahuilah, tak mungkin semua keinginanmu terwujud. Karena itu kendalikan harapan, hasrat dan keinginanmu. Bila meminta hendaklah yang sedang sedang saja. Carilah nafkah dengan jalan terhormat. Merasa cukuplah dengan apa yang engkau peroleh dengan jalan terhormat. Bersabarlah, dan jangan sampai hasrat dan keinginan mu tak terkendali karena banyaknya keinginan akan membuatmu sedih dan kecewa.
Ingatlah, bahwa setiap peminta atau setiap yang memohon sesuatu tak selamanya memperoleh apa yang diminta atau dimohon dan setiap yang mengendalikan keinginannya, maka dia meyakini integritas diri sendiri dan tidak meminta atau memohon apa apa, tak akan selamanya malang dan kecewa. Maka dari itu jangan hancurkan rasa percaya kepada integritas diri sendiri, jangan dengki dan jangan mau begitu saja mengikuti kemauan dan jangan tundukkan dirimu dengan karakter buruk dan hina.
Ingatlah, jangan sampai dirimu menjadi budak siapapun. Jangan engkau jual kemerdekaanmu hanya untuk mendapatkan sesuatu. Apa yang engkau peroleh dengan menjual kehormatan dan integritas diri atau dengan mau maunya dihina, sesungguhnya tak ada manfaat dan nilainya. Hati hatilah, bahwa rakus dan kikir akan membawamu ke dalam kehancuran. Berupaya keraslah untuk mencapai kemuliaan Allah, karena Dia akan memberi bagian mu. Ingatlah bahwa sedikit yang diberikan Allah kepada mu lebih bermanfaat dan terhormat bagimu, ketimbang banyak yang diberikan manusia kepadamu. Dan apa yang diberikan manusia kalau bukan bagian apa yang diberikan Allah kepadanya.