Seorang yang dinamis akan cepat menangkap informasi dibandingkan dengan orang yang pasif. Kecepatan memperoleh informasi dalam dunia usaha berarti juga mati hidupnya usaha tersebut. Jadi, tiada lain bagi seorang usahawan kecuali harus memiliki daya inisiatif agar tidak tertinggal dan mati dalam dunia persaingan yang makin ketat.
Dalam suatu kelompok misalnya, ada masa-masa kelompok itu berada dalam keadaan tidak menentu dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Tanpa ada seseorang yang mengambil inisiatif, maka kelompok tersebut akan terkatung-katung. Salah seorang dari anggota kelompok tersebut harus berani mengambil inisiatif walaupun hanya dalam bentuk saran. Siapapun yang mula-mula mengajukan saran atau ajakan untuk berbuat sesuatu demi kebaikan kelompok tersebut, maka dialah yang mempunyai daya inisiatif. Dalam hal ini daya inisiatif diukur dari keberaniannya melakukan tindakan pertama diantara yang ada di kumpulan itu.
Faktor Pendorong Daya Inisiatif
Mengingat faktor inisiatif sangat penting dalam dunia wiraswasta, maka kiranya perlu dikaji lebih mendalam hal-hal apa saja yang mendorong pengembangan daya inisiatif dan apa pula yang dapat menyebabkan seseorang tidak atau kurang mempunyai daya inisiatif. Jika inisiatif dikaitkan dengan hal-hal yang bersifat wira, maka kebiasaan baik seperti suka menolong dan keteladanan akan banyak menumbuhkan daya inisiatif seseorang. “Ringan kaki dan tangan” adalah suatu pepatah yang bagus untuk menggambarkan sikap mental seseorang yang cekatan dan suka menolong. Hal-hal yang dapat menumbuhkan rasa untuk segera bertindak dan menolong orang lain secara langsung juga akan menumbuhkan daya inisiatif. Daya inisiatif seseorang juga sering tercermin dari seberapa jauh tingkat kepekaannya terhadap hal-hal yang seharusnya memerlukan suatu tindakan. Tingkat kepekaan atau kepedulian tersebut antara lain juga dipengaruhi oleh tingkat kekritisan berpikir, tingkat ketanggapan dan kepedulian lingkungan. Seseorang yang mampu berpikir kritis akan lebih cepat menemukan kejanggalan atau suatu hal yang memerlukan tindakan. Demikian juga mereka yang tanggap atas suatu kejanggalan akan segera bertindak, dan sebaliknya mereka yang biasa pasif atau masa bodoh tidak akan berbuat apa-apa walaupun melihat atau tahu bahwa sesuatu tindakan diperlukan. Jadi, mereka yang tanggap, berpikir kritis, ramah atau biasa memberi teladan dan saran yang baik kepada orang lain serta memiliki kesadaran lingkungan yang tinggi, maka akan dapat menumbuhkan dan meningkatkan daya inisiatifnya. Sikap mental dan kepribadian yang baik tersebut secara langsung telah memberi pelumas untuk peningkatan daya penggerak dirinya.
Disiplin dan Daya Inisiatif
Inisiatif yang merupakan faktor penting bagi setiap orang (terutama para pemimpin) adalah hasil latihan diri selama-bertahun-tahun. Dalam hal ini penting peranan faktor disiplin diri. Disiplin diri terutama terhadap tugas dan kerja dapat membantu dan merupakan faktor pelicin untuk meningkatkan daya inisiatif. Disiplin untuk berbuat sesuatu dengan senang hati akan banyak membantu pengembangan daya inisiatif.
Apa yang dimaksud dengan “disiplin” itu?
Disiplin adalah sikap menepati norma yang sering terkait faktor waktu. Pengertian “norma” dapat berupa janji, tata tertib, aturan, etika, amanah, dan sejenisnya. Kepatuhan kepada tugas dan ketepatan waktu sering merupakan norma utama pada disiplin. Bangsa atau negara yang maju umumnya dicirikan oleh tingkat kedipsilinan rakyatnya. Tanpa disiplin tidak mungkin seseorang atau suatu bangsa itu maju. Displin memang terasa berat terutama bagi mereka yang belum terbiasa disiplin. Mereka ini umumnya bertindak semaunya saja. Tidak lagi mengindahkan norma-norma sosial yang ada. Tentu saja jika sebagian besaratau semua orang bersikap demikan, maka hanya anarki yang terjadi dan bangsa tersebut pastilah rusak dan sengsara karena pemerintahan dan masyarakat kacau. Tetapi mengapa banyakorang belum dapat disiplin, termasuk disiplin pada dirinya sendiri? Disiplin memerlukan kemauan, latihan dan kesungguhan. Pada awalnya mungkin terasa seperti paksaan. Namun, jika hak itu dibiasakan , maka tidaklah terasa paksaan, bahkan jika sudah biasa dilaksanakan sehari-hari, maka akan menjadi kebiasaan baik. Tingkat daya inisiatif antara lain juga terlihat dari tingkat kecekatan dan kesenangan menjalankan tugas.
Otosugesti dan Disiplin
Disiplin dapat dikembangkan dengan cara kebiasaan menepati norma dan waktu. Jika tidak dapat ditegakkan dengan “senang hati”, maka dapat juga dengan otosugesti dan ataupun dengan cara “memaksakan diri”. Dalam hal ini “memaksakan diri” bukan berarti berbuat “nekad”,”ngawur” atau perbuatan negatif lainnya. Memaksakan diri disini adalah dalam arti harus melakukan kerja pada waktu yang sudah ditetapkan, jadi dalam arti menepati janji kerja dan waktu demi menyelesaikan sesuatu tugas.
Otosugesti atau “saran diri” penting untuk mendorong tekad berinisiatif, seperti misalnya saran diri untuk bertindak : “Sekarang juga!” atau “saya bisa!”, atau “saya harus bisa!”yang akan mendorong seseorang melakukan suatu tugas yang semula enggan atau ragu untuk mengerjakannya. Tentu saja hasil yang gemilang hanya akan diperoleh jika seseorang bekerja diiringi dengan penuh kegairahan dan semangat untuk berprestasi. Kegairahan dan semangat kerja yang tinggi adalah faktor penting untuk keberhasilan pekerjaan.
4. Kehilangan Daya Inisiatif?
Daya inisiatif seseorang berkurang atau bahkan hilang mungkin karena keprcayaan dirinya rendah, atau memang karena dia tergolong orang biasa pasif, malas, atau memang tergolong “kendo” (lamban dan bodoh). Seseorang tidak berani memulai atau melakukan sesuatu pekerjaan mungkin karena kejadian masa lalu yang mengerikan atau trauma. Sehingga selalu diliputi rasa takut, termasuk takut mengerjakan tugas yang diberikan. Daya inisiatif seseorang juga dapat menurun jika kesehatannya tidak menunjang.
Berbagai faktor dapat menyebabkan seseorang tidak berbuat apa-apa, walaupun dia tahu tentang berbagai hal. Seseorang tidak atau enggan mencoba suatu bisnis yang sebenarnya dia tahu, mungkin disebabkan kurang kepercayaan diri atau dia memang malas atau terbiasa apatis (acuh tak acuh). Bimbang dan ragu sering menyebabkan orang tidak berani mengambil inisiatif. Tanpa adanya inisiatif tidak akan pernah sesuatu berjalan. Pilihan yang harus dijawab seseorang adalah menunggu orang lain mengambil inisiatif ataukah dia sendiri yang akan memulai. Pilihan pertama berarti dia pasrah, menunggu belas kasihan atau merasa cukup menjadi “kuli” saja dan menuruti perintah yang akan diberikan. Pilihan kedua berarti dia mencoba untuk bangkit dan berdiri atas kemampuannya sendiri. Pilihan kedua mungkin terasa berat, namun akan melatih diri mempertebal kepercayaan diri
Sikap apatis dan takut melakukan sesuatu mungkin juga disebabkan adanya sindrom atau ketakutan karna suasana keamanan atau politik disekitarnya atau keadaan mencekam yang pernah dialami selama beberapa waktu yang lalu. Dia takut dituduh atau disalahkan, sehingga sikapnya apatis dan lebih baik memilih tidak berbuat apa-apa. Sikap ini tanpa disadarinya juga berlaku pada setiap tantangan yang dihadapi. Seharusnya dia dapat berbuat sesuatu yang dapat memperbaiki status ekonomi atau sosialnya. Tentu saja orang yang bersikap apatis tidak peka dan tidak tanggap terhadap perubahan yang ada, sehingga dia mungkin akan tertinggal, mundur dan kalah dalam berbagai bisnis.
5. Kecekatan dan Tindakan
a. Peranan Kecepatan dan Kecekatan
Beberapa orang sering tertinggal atau kalah cepat bertindak karena terlalu lama berpikir atau terlalu banyak berteori. Sebaliknya para pengusaha yang berhasil umumnya tanggap, berpikir praktis dan cepat mengambil putusan untuk bertindak. Karena sikapnya yang demikian, maka pengusaha yang berhasil umumnya cepat dapat merebut kesempatan, atau jika menyangkut sesuatu yang mengancam mereka, dengan mudah mereka dapat ,menghindar atau hanya mengalami kerugian yang tidak berarti. Bagi mereka faktor waktu benar-benar sangat penting. Keterlambatan bertindak dapat berarti suatu kerugian yang tidak ternilai. Hal ini berlaku juga bukan hanya untuk para pengusaha, tetapi juga bagi semua orang yang ingin maju. Waktu, momentum, dan kesempatan benar-benar penting dan menentukan perjalanan seseorang, suatu perusahaan dan bahkan suatu negara.
Keterlambatan hanya satu hari, atau bahkan hany satu jam, dapat menyebabkan kerugianyang besar. Kegagalan seing dialami oleh seseorang atau suatu perusahaan karena ketika usul diajukan, momennya telah berubah akibat keterlambatan. Makin kritis dan ur-gen suatu keadaan, maka makin diperlukan suatu tindakan yang cepat dan tepat. Kecekatan sangat penting dalam keadaan yang mendesak itu, karena keputusan untuk bertindak harus cepat ditentukan dan jangan sampai “tertinggal kereta”.
b. Momentum dan Kesempatan
Sukses atau gagal dalam suatu bisnis sering bergantung pada kecekatan dan cara memanfaatkan waktu, Momen dan kesempatan yang ada. Kecepatan bertindak secara tepat hanya mungkin diperoleh seseorang melalui kebiasaan tanggap terhadap setiap perkembangan yang terjadi, berpikir kritis dan analitis, serta cepat bertindak dengan memepertimbangkan semua resiko dan keuntungannya. Faktor pengalaman, intuisi dan kecekatan memperoleh informasi sangat bermanfaat dalam menentukan putusan yang cepat dan tepat.
Pengetahuan yang luas tentang jaringan informasi dan komunikasi perlu dikuasai agar seseorang dapat dengan mudah dan cepat-cepat setiap informasi yang diperlukan. Jaman modern ini sesungguhnya adalah jaman informasi dan komunikasi. Kemajuan atau kemunduran pada seseorang, suatu perusahaan atau suatu negara dewasa ini banyak ditentukan oleh seberapa jauh yang bersangkutan dapat menguasai informasi dan komunikasi yang ada dan berkembang terus.
c. Informasi Mutakhir
Pengusaha atau perusahaan yang sukses umumnya adalah juga orang atau perusahaan yang selalu berusaha memperoleh informasi yang mutakhir. Perkembangan ekonomi (perdagangan, harga, inflasi, dan sebagainya), keadaan sosial (tenaga kerja, pendidikan, agama, adat dan sebagainya), politik dan keamanan perlu terus diikuti. Setiap perkembangan yang dianggap penting terutama yang menyangkut kemajuan atau hidup matinya perusahaan, perlu dianalisa secara luas dan mendalam untuk kemudian menentukan tindakan atau sikap apa yang paling baik harus dilakukan. Jika perkembangan yang ada dianggap sangat penting dan kritis, maka perlu pemikiran dan pertimbangan yang cepat agar dapat segera diputuskan tindakan apa yang harus diambil.
Kecepatan dan kecekatan seseorang atau suatu perusahaan untuk dapat bertindak menanggapi suatu perkembangan mutahir hanya mungkin dilakukan jika yang bersangkutan dapat memperoleh infirmasi secara cepat juga. Jadi, kecepatan dan kecekatan memperoleh informasi sangat penting. Bagaimana seseorang atau suatu perusahaan dapat memperoleh informasi secara cepat? Untuk itu memang diperlukan pengetahuan yang luas dan seni memperoleh informasi mutahir secara tepat dan cepat. Teknologi baru dengan peralatan komunikasi modern telah memungkinkag seseorang untuk mengirimkan dan menerima informasi atau berita baik dalam bentuk tulisan, suara maupun bentuk gambar atau kode lainnya secara cepat.
Penggunaan peralatan komunikasi modern dengan teknologi canggih mampu menjangkau orang atau wilayah jauh lebih luas daripada cara lama. Selain itu peralatan modern tersebut juga menungkinkan proses yang lebih cepat dan akurat. Walaupun demikian, unsur manusia tetap merupakan kunci yang menentukan untuk dapat memperoleh informasi yang tepat dan cepat sangat bergantung pada pengetahuan dan hubungan baik dengan mereka yang “menguasai” sumber informasi.
Dewasa ini kiranya tidak ada satu pun perusahaan dapat maju dan berkembang tanpa memiliki kemampuan untuk memperoleh informasi yang diperlukan oleh perusahaan tersebut secara cepat dan akurat. Perkembangan masyarakat terutama para pelanggan atau konsumen, perkembangan harga, politik, ekonomi dan keamanan perlu selalu dipantau (monitor) untuk dijadikan pertimbangan langkah kebijakan atau tindakan yang harus diambil. Pemantauan dan pengumpulan informasi tentang perkembangan pesaing (kompetitor) dalam bisnis yang sama bahkan sering dianggap sebagai prioritas utama. Tentu saja suatu perusahaan berusaha sebaik-baiknya untuk dapat memperoleh informasi yang lebih cepat pula. Sekali lagi dalam hal ini faktor waktu benar-benar sangat berharga dan menentukan.